Cerpennya berjudul Jasa-jasa buat Sanwirya mendapat Hadiah Hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep. Novelnya Kubah (1980) memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1980. Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986) meraih hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1986. Novelnya Di Kaki Bukit Cibalak (1986) menjadi pemenang salah satu hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979.
Pada tahun 1995 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Asean, SEA Write Award.
Sekitar tahun 1987 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Rancange
- Kubah (novel) (novel, 1980)
- Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (diadaptasi menjadi film tahun 2011):
- Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982)
- Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985)
- Jantera Bianglala (novel, 1986)
- Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
- Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989)
- Bekisar Merah (novel, 1993)
- Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
- Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000)
- Belantik (novel, 2001)
- Orang Orang Proyek (novel, 2002)
- Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004)
- Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (novel bahasa Jawa, 2006; meraih Hadiah Sastera Rancagé 2007
Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Edisi bahasa Inggris Ronggeng Dukuh Paruk , Lintang Kemukus Dini Hari , Jantera Bianglaladiterbitkan oleh Lontar Foundation dalam satu buku berjudul The Dancer diterjemahkan oleh Rene T.A. Lysloff.
Pada tahun 2011, trilogi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk diadaptasi menjadi sebuah film fitur yang berjudul Sang Penari yang disutradarai Ifa Isfansyah. Film ini memenangkan 4 Piala Citra dalamFestival Film Indonesia 2011.
Apa yang beliau katakan terhadap Treelionaire?...
"Heru Saoping menulis untuk mencerdaskan orang lain dan anda sendiri"
Bagaimana dengan anda?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar